Senin, 10 Januari 2011

Bersatu Karena Piala AFF

“Mentari pagi sudah membumbung tinggi/ Bangunlah putra putri ibu pertiwi/ Mari mandi dan gosok gigi/ Terbanglah garudaku/ Singkirkan kutu-kutu di sayapmu/Oh..Berkibarlah benderaku/ Singkirkan benalu di tiangmu/ Jangan ragu dan jangan malu/ Tunjukkan pada dunia/Bahwa sebenarnya kita mampu” (Iwan Fals – Bangunlah Putra-Putri Pertiwi)
Sepenggal lirik dari Iwan Fals tersebut sangat cocok untuk masyarakat Indonesia saat ini lantaran kecewa dengan hasil gagalnya Indonesia menyabet gelar juara Piala Suzuki AFF 2010. Kesedihan tak boleh terus menerus terjadi karena hal itu tak akan merubah keadaan. Indonesia memang belum pernah menjadi juara di ajang turnamen sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara ini. Indonesia baru mampu mencapai posisi runner up pada tahun 2000, 2002, 2004, dan kini 2010. Namun jangan berputus asa, mari bangkit kembali wahai pujangga Timnas Garuda dan masyarakat sepakbola Indonesia. Tidak ada keberhasilan tanpa melalui proses dan kegagalan-kegagalan merebut juara adalah sebuah proses pembelajaran untuk maju di kemudian hari. Tidak ada keberhasilan melalui proses yang instan.
Indonesia memang gagal juara, namun antusiasme masyarakat Indonesia terbukti juara. Bulan Desember yang akan berganti ini menyisakan sebuah kenangan bagi sepakbola Indonesia. Masyarakat Indonesia berbondong-bondong datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk mendukung langsung kesebelasan Garuda bertanding. Kenaikan jumlah penonton terus bertambah dari mulai babak penyisihan hingga puncaknya lautan manusia menyelimuti GBK. Orang-orang rela antri berjam-jam demi mendapatkan sebuah tiket. Namun, mereka yang tidak mendapatkan tiket juga tak berkecil hati, mereka masih bersemangat menyaksikan pertandingan walaupun hanya dari layar lebar di luar stadion.
Sayangnya, antusiasme masyarakat Indonesia untuk menyaksikan pertandingan sepakbola tidak diiringi dengan kualitas layanan yang memuaskan dari pihak penyelenggara yaitu PSSI. Manajemen tiket yang amburadul dan masih banyaknya calo berkeliaran menjadi masalah utama dalam penyelenggaraan Piala AFF 2010 ini. Maka tak heran, keributan dalam masalah distribusi tiket adalah tontontan di televisi yang sebenernya hal ini sangat memalukan. PSSI juga terkesan sangat komersil dengan menaikkan harga pada laga semifinal dan final. Dengan alih-alih untuk pelayanan yang lebih baik, tetapi yang terjadi nol besar. Kekacauan dan kerusuhan semakin menjadi ketika puncaknya mendekati partai final.
Jumat (17/12) setelah Sholat Jumat bersama empat orang teman lainnya saya bergegas ke GBK untuk membeli tiket semifinal leg kedua Indonesia VS Filipina. Ketika saya datang kira-kira jam 3 sore antrian saat itu sudah sangat panjang. Saya melihat di depan pintu X antrian massa sangat tidak teratur. Banyak orang termasuk seorang ibu yang saya lihat tidak bisa keluar setelah membeli tiket –masih berbentuk nota dan harus ditukarkan saat hari H-. Terpaksa mereka harus meloncat dari pagar diantara kerumunan massa agar bisa keluar dari kerumunan massa. Loket yang dibuka saat itu hanya dua loket di pintu X dan sangat tidak berbanding dengan banyaknya massa saat itu. Akhirnya, kurang lebih 2 jam setengah saya dan teman-teman yang lain baru bisa mendapatkan tiket.
PSSI Tidak Pernah Belajar
Menjelang laga final, masalah distribusi tiket kembali berulang. Kali ini lebih parah daripada semifinal. Hari pertama dan kedua pembelian tiket, saya hanya menyaksikan pemberitaan terkait penjualan tiket dari Televisi. Saya melihat orang-orang antri sejak pagi namun pada siang hari tiket sudah habis terjual. Banyak orang yang tidak mendapatkan tiket dan kecewa, sebagian dari mereka ada yang protes ke kantor PSSI. Hari kedua, saya melihat dari televisi kericuhan di loket utara TVRI. Dan salah satu penulis @ZinePlak mas Iqbal Prakasa (@ColonelSeven) diteriaki calo oleh Satgas PSSI dan akhirnya mendapatkan bogem mentah dari Satgas tersebut karena mas @colonelseven ini protes terkait carut-marutnya pembelian tiket. Negeri macam apa ini ketika seseorang ingin berpendapat dan melakukan protes untuk kebaikan malah dibungkam, dengan cara kekerasan pula. Di mana keadilan itu?
Tampaknya PSSI tidak pernah belajar dari kejadian sebelumnya. Lalu penjualan tiket online kabarnya juga ricuh, tak transparan karena baru setengah jam tiket dinyatakan sold-out. Hari minggu (26/12), saya berangkat ke GBK setelah sholat shubuh. Bersama teman saya @adamapd, @bayunputra, @nfrofiq, dan Handika berniat berangkat lebih pagi berharap agar dapat antrian tiket yang tidak terlalu belakang. Namun apa daya, sampai disana sekitar jam 5 pagi saya melewati loket Masjid Al-Bina yang udah ramai sekali antriannya. Maklum saja, banyak orang yang sudah berada di GBK khususnya loket Al-Bina sejak malam. Sama halnya seperti salah seorang teman yang bernama Angga, Yandhi, dan Muadz yang sejak malam sudah berada diantara antrian tersebut.
Saya memutuskan untuk mengantri di loket timur Senayan, dan sekitar jam setengah 6 antrian sudah mencapai kolam renang GBK. Berjam-jam saya mengantri dan berdesakan dengan supporter lain. Kami masih menunggu dan terus menunggu loket dibuka. Walaupun hujan kami tetap menunggu loket dibuka yang akhirnya loket tak kunjung dibuka pula. Sekitar jam 10 ada insiden rusuh kecil di loket timur. Sekitar jam 1 atau setengah dua siang, kami baru diberitahu bahwa loket ini memang tidak dibuka, sekarang antrian hanya ada di dalam stadion. Orang yang telah mengantri berjam-jam jelas kecewa karena tidak ada pemberitahuan resmi daritadi, kita hanya menunggu tanpa kepastian.
Setelah itu saya dan teman-teman yang lain memutuskan untuk masuk ke dalam stadion. Kami masuk ke stadion     dengan tertib dan selalu mengantri, tak seperti yang dibilang bapak Nurdin Halid bahwa penyebab kekacauan pembelian tiket di hari minggu itu karena tidak tertibnya supporter. Hal itu adalah kebohongan besar. Sampai dalam stadion, saya sudah melihat keributan. Banyak orang masuk ke dalam lapangan dan sebagian diantara mereka ada yang menghamburkan tiket atau kupon, saya tidak melihat jelas. Situasi sangat kacau, saya hanya melihat dari tribun VVIP. Akhirnya pihak kepolisian dapat menenangkan massa dan kami keluar stadion dengan membeli masing-masing satu buah tiket. Penjualan tiket dalam stadion ini dipandu langsung oleh polisi, bukan pihak panitia.
Saya menyesalkan aksi perusakan dan masuknya supporter ke lapangan GBK, namun apa boleh buat. Massa sudah terlanjur kesal dan emosi lantaran kekecewaan mereka terhadap pelayanan tiket amburadul seperti ini. Pahitnya lagi, seorang Nurdin Halid justru menganggap biang kerusuhan ini terjadi karena ulah seorang provokator. Saya kira tak ada provokator, yang ada hanyalah kekesalan dan kekecewaan terhadap manajamen tiket dari panitia.
Teman saya berucap “Gua hampir mati tadi desak-desakan, kita diperlakukan seperti layaknya binatang saja. Nurdin harus turun!”. Kejadian ini adalah perjuangan bagi saya, teman-teman dan supporter lainnya demi mendapatkan sebuah tiket untuk mendukung Timnas.
Persatuan Indonesia
Bulan Desember adalah bulan persatuan Indonesia. Mengapa demikian? Piala AFF 2010 ini telah menyita banyak perhatian bagi rakyat Indonesia. Dari yang murni mencintai sepakbola hingga yang biasa-biasa saja terhadap sepakbola mendadak menjadi sangat bersemangat mendukung Timnas Indonesia berlaga. Media pun sama, dari berita televisi, koran, hingga infotainmet –tak berhubungan dengan sepakbola- ramai-ramai memberitakan perjalanan Timnas Indonesia selama Piala AFF 2010 berlangsung.
Dari anak kecil, pemuda, hingga orang tua ramai-ramai mendukung Firman Utina dkk baik dari layar televisi maupun menyaksikan langsung di Stadion GBK. Dari rakyat jelata hingga Presiden RI sama-sama berada di GBK. Jika Anda sempat mendukung Timnas langsung di stadion, maka atmosfer kebersaman, persatuan dan kebangsaan amat sangat terasa di altar GBK kebanggan bangsa Indonesia.
Tak lupa para pejabat dan politisi berlomba-lomba cari simpati atas keberhasilan Timnas Indonesia. Ada salah satu politisi yang mengundang makan di kediamannya dan juga memberikan hibah sebidang tanah 25 hektar untuk sepakbola. Ada pula kyai yang menggelar Istighotsah di pesantrennya dengan mengundang Timnas langsung. Isu politisasi Timnas Indonesia menguat di media nasional. Maka tak heran, banyak orang menganggap hal non-teknis ini sebagai penyebab kekalahan Indonesia atas Malaysia di stadion Bukit Jalil (26/12).
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk terdiri dari suku, agama, dan ras yang berbeda. Bangsa ini memiliki simbol burung Garuda dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Bulan ini terlihat kita sejenak menghilangkan simbol-simbol primordialisme dan bersama-sama kita kembali kepada “Merah Putih”. Kita melepaskan atribut kesukuan. Suporter-suporter klub Indonesia yang kadang tak akur pun bersatu meneriakan koor missal “Indonesiaaa! Indonesiaa!” dan sama-sama menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku”.
Melalui akun twitter @ArifSuyono, pemain Timnas Indonesia ini menulis: “Kita bisa lihat tawa pedegang asongan n pemimpin kita bersama-sama di GBK. Ini namanya satu bangsa. Aku rindu persaudaraan di GBK. Aku rindu persaudaran di GBK dimana tawa pemimpin kita n pedagang asongan melebur jadi satu. Sesuai semboyan bangsa. Bhineka Tunggal Ika.”
Saya sangat setuju dengan pernyataan mas @ArifSuyono, memang benar kemarin kita merasakan nuansa persatuan dan persaudaraan atas nama Sepakbola. Iya, sepakbola telah menyatukan kita semua, tak peduli kelas sosial yang kita sandang. Kita bergembira bersama mendukung tim kesayangan kita, Indonesia. Walaupun rasa pahit juga kita alami karena mekanisme pembelian tiket yang carut marut ini. Tapi setidaknya kita, masyarakat Indonesia telah menunjukan solidaritas yang tinggi dan loyalitas terhadap Timnas Indonesia. Walaupun harga tiket bagi sebagian orang terasa mahal dan pelayanan pembelian tiket yang buruk, tapi kita tetap menunjukan antusiasme kita untuk Indonesia.
Tiba saatnya pertandingan terakhir, final leg kedua Indonesia VS Malaysia di GBK. Disaksikan puluhan ribu jiwa di dalam stadion, ribuan orang di layar lebar luar stadion, dan jutaan masyarakat Indonesia di layar kaca bersatu untuk mendukung Indonesia. Indonesia menang 2-1 atas Malaysia namun tetap gagal menjadi juara. Banyak yang kecewa namun kita tetap legowo menerima hasil akhir ini. Dan ada hal yang lebih penting bagi masyarakat Indonesia dari sekedar gelar juara apalagi politisasi elit politik. Hal yang lebih penting itu adalah di penghujung tahun 2010 ini kita bisa berkata, “Masyarakat Indonesia bersatu karena sepakbola”. Selamat tahun baru 2011, sepakbola telah menyatukan kita.

Tari Bali, noken, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akan diajukan dalam nominasi warisan budaya dunia ke Unseco pada 2011.

Lewat Hary Waluyo, Direktur Penelitian dan Pengembangan Budaya, Badan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, menganggap ketiga jenis warisan budaya tersebut layak diajukan karena mewakili geografis Indonesia yang selama ini dianggap terlalu berpusat di wilayah Jawa. "Setelah Jawa Barat, pilihan pengajuan budaya Indonesia ke Unesco beralih ke budaya di luar Pulau Jawa, yakni Bali dan Papua," kata Harry. Angklung dari Jawa Barat sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya dari Indonesia.

Harry menjelaskan, ada sembilan jenis tari Bali yang diajukan ke Unesco. Setiap tari mewakili sembilan kabupaten yang ada di Pulau Dewata. Namun Harry tidak bisa memberikan nama-nama jenis tarian asal Pulau Dewata tersebut.

Sementara noken dipilih karena dianggap sebagai ikon khas masyarakat Papua. Noken atau agiya adalah sebuah alat yang biasa digunakan oleh perempuan di pedalaman Papua untuk membuai bayi mereka, menyimpan babi, umbi-umbian, sayur, dan pakaian. Noken terbuat dari tali hutan (kayu) khusus yang tidak mudah putus, seperti rotan atau pohon lainnya.

Dengan perkembangan zaman, noken pun mengalami kemajuan dalam produksinya. Setelah proses anyam, noken diberi warna-warni sehingga berpenampilan lebih menarik. Noken bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di Papua dengan harga antara Rp15.000 sampai Rp100.000 per buah.

TMII dipilih diajukan karena akan dijadikan model penataan budaya yang bukan benda oleh negara-negara lain, demikian kata Harry.

Saat ini semua proses pengajuannya tengah diurus oleh Badan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kemenbudpar . Batas terakhir pengajuan yang diberikan Unesco adalah sampai 31 Maret 2011.

Selain ketiganya, tari Saman asal Aceh juga akan diumumkan sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia pada tahun 2011.

Rumor Facebook Akan Tutup Maret 2011 Ternyata Hoax

Baru-baru ini, internet dibanjiri rumor Facebook akan berhenti beroperasi. Hal itu membuat banyak pengguna Facebook panik dan terus mencari kebenarannya.

Rumor ini menyatakan bahwa pada 15 Maret, situs jejaring sosial ini tidak akan ada lagi. Untungnya, kemudian diketahui bahwa berita ini tak memiliki unsur asli yang melekat di dalamnya dan merupakan bagian dari hoax.

Tak diragukan, Facebook merupakan situs jejaring sosial terpopuler dan tak pernah berhenti memesona penggunanya dengan aplikasi dan fasilitas bervariasi. Menurut laporan, pada malam Sabtu terdapat ribuan orang mencari kebenarannya di internet.

Rumor itu muncul setelah seseorang menulis dalam blog yang berisi pesan pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg bahwa ia memutuskan akan menutup situsnya. Kabarnya, Zuckerberg merasa lelah pada hidupnya karena terus berusaha mengelola situs populer itu.

Karena pengelolaan situs menjadi semakin sulit dan di luar kendali, ia ingin mematikan situsnya. Netizen khawatir pada rumor itu karena mereka mengganggap penutupan situs jejaring sosial raksasa itu akan mengecewakan mereka yang kecanduan Facebook.

Setelah menyadari berita itu hanya rumor, para penggemar dapat bernapas lega dan kembali menggunakan Facebook.

Kisah Pilu Tentara AS Di Medan Perang

Spesialis William B Allen adalah petugas medis Angkatan Darat AS yang bertugas mendampingi dua putaran tur perang di Irak. Ia menghabiskan 27 bulan di sana. Dia baru saja menyelesaikan program tiga-minggu pengobatan untuk Gangguan Stres Pasca Trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada Warrior Combat Stress Reset Center di Fort Hood, pangkalan militer terbesar AS di dunia.

“Menjadi pasukan medis di medan tempur, kami harus ‘hidup’ selama 24 jam sehari. Kami menangani peristiwa korban massal, atau pembom bunuh diri wanita yang meledakkan rumah sakit tiga kali berturut-turut. Kami lah orang yang merespon itu. Saya ‘meledak’ beberapa kali dalam hidup saya.

“Ketika Anda kembali ke Amerika Anda akan terus menjadi seseorang yang hiper. Insomnia akan menghingapi Anda setiap empat bulan sekali. Saya benar-benar menjadi gila.

“Saya mulai minum alkohol, menggunakan narkoba, bahkan terpikir untuk bunuh diri. Saya lelah terus bermimpi buruk, saya ingin menemui teman saya yang sudah mati.

“Saya pernah berada di pusat rehabilitasi narkoba selama sebulan. Saya konsultasi dengan ahli psikologi. Waktu itu, penyembuhannya hanya dengan ‘minumlah pil ini.’”

“Kemudian mereka menempatkan saya dalam program ini. Mereka bilang saya akan menjalani reiki, pijat, yoga, akupunktur, dan yang terpikir pertama kali dalam pikiran saya, saya akan menjalani pengobatan mistis atau voodoo.

“Ketika saya berada dalam kondisi ini, saya benar-benar marah terhadap segala sesuatu. Semuanya membuat saya jengkel dan murka. Saya benar-benar takut.

“Tapi kemudian, pikiran saya menjadi terbuka, karena saya yakin, saya akan melakukan sesuatu yang terbaik. Dalam beberapa hari terapi alternatif komplementer itu, saya merasakannya. Saya menjadi realistis.

“Saya bisa tidur lebih baik sekarang. Minggu lalu, saya tidur tanpa obat penenang sepanjang malam, dengan menggunakan teknik pernapasan, teknik relaksasi.

“Bagian yang sulit bagi saya adalah kembali ke medan perang. Kembali sebagai petugas medis dan berurusan dengan peluru, amputasi, kematian yang mengerikan … Saya tidak yakin bahwa saya benar-benar ingin melakukannya.



“Tapi saya bisa membantu dengan aspek-aspek lain—konseling, atau merawat. Ada banyak jiwa yang perlu disembuhkan juga. Segala sesuatu harus diperhitungkan, dan pada saat ini saya tidak keberatan menyebarkan aspek seperti itu.

“Hal yang disayangkan adalah fasilitas konseling ini tidak ada yang mencukupi. Ada 12 tentara pada satu waktu, di mana ada bisa 1.200 prajurit yang mungkin perlu konseling dan perawatan.

“Semua orang terpengaruh. Saya tidak pernah menemukan satu orang pun yang tidak terpengaruh. Akhirnya tak peduli siapa pun Anda, perang akan selalu memengaruhi Anda. Perang akan mengubah jiwa Anda.” (sa/bbc)

Penganiaya Sumiati Dihukum Ringan

Pemerintah Indonesia akan mengajukan keberatan atas keputusan Pengadilan di Madinah, Arab Saudi yang menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepada bekas majikan Sumiati, TKW yang mengalami penganiayaan berat hingga nyaris lumpuh.

Majikan warga Saudi itu dijatuhi hukuman penjara atas penusukan, pemukulan dan pembakaran pekerja rumah tangga asal Indonesia tersebut dengan seterika.

Konsul Indonesia untuk Perlindungan WNI di KJRI Jeddah, Didi Wahyudi mengatakan hukuman ini terlalu ringan.

"Keberatan atas keputusan hakim karena dianggap terlampau rendah dari hukuman maksimal yang seharusnya 15 tahun penjara, sementara akibatnya luar biasa terhadap Sumiati," kata Didi Wahyudi kepada BBC Indonesia.

Banding

Dalam sidang hari Minggu (9/1), bekas majikan Sumiati menolak keras bahwa dirinya bersalah dan sebelumnya mengatakan luka-luka pada tubuh Sumiati terjadi karena perbuatan Sumiati sendiri.

Hukum Arab Saudi, tambah Didi, mengenal proses keberatan dan proses banding.

"Keberatan dilakukan oleh pihak penuntut umum didukung oleh lawyer (pengacara), sementara lawyer majikan juga menuntut. Tidak puas, karena dirasakan bahwa majikan Sumiati itu tidak bersalah walaupun hakim menyatakan bahwa semua bukti dan saksi mengatakan dia telah melakukan tindakan itu," tutur Didi yang menangani kasus Sumiati sejak awal.

Bila dalam sidang selanjutnya hakim menyatakan lama hukuman tersebut sudah cukup dan pihak Indonesia tidak puas, maka pemerintah Indonesia akan mengajukan banding.

Pekan lalu, Sumiati hadir dalam sidang di pengadilan dan memperlihatkan luka-lukanya kepada hakim.

Skala luka yang diderita Sumiati dan kisah keji yang dialaminya November silam sempat menggemparkan Indonesia dan kalangan aktivis buruh migran.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta keadilan bagi Sumiati dan mengirim tim khusus ke Saudi untuk menangani kasus ini walau hingga saat ini belum ada kesepakatan akhir sehubungan dengan perlindungan TKI di Arab Saudi.

Dan untuk pertama kalinya, duta besar Arab Saudi di Jakarta sampai perlu mengadakan jumpa pers untuk meyakinkan Indonesia bahwa kasus Sumiati akan dituntaskan.
sumber: DetikNews

Bagaimana Mengatasi Stress?

VIVAnews - Tiap orang yang memiliki rutinitas sehari-hari tidak akan bisa terhindar dari stres, baik itu kaum pria maupun wanita. Namun tak bisa dipungkiri, banyaknya pekerjaan wanita, mulai dari mengurus anak, suami, serta sibuk dengan aktivitas kantor membuatnya lebih rentan mengalami stres yang merupakan salah satu gejala depresi.

"Wanita lebih memiliki banyak beban sehingga mudah lelah dan mudah mengalami depresi," kata Dr Suryo Dharmono Sp.KJ dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dr Suryo menambahkan, meski wanita rentan mengalami depresi, tapi kesibukan wanita yang multitasking membuatnya mudah menangani stres yang dialami. Beraneka ragam kesibukan yang dilakukan wanita membuat otaknya bekerja lebih cepat dibandingkan pria.

Saat zaman purba, Dr Suryo mencontohkan, kebanyakan pria hanya memiliki satu pekerjaan yakni, berburu. Dengan satu pekerjaan tersebut, pria bisa fokus melaksanakan tugasnya dengan baik. Sementara wanita, selain memasak dia dituntut harus mengerjakan pekerjaan lainnya termasuk mengurus anak.

“Wanita sudah terbiasa, melakukan pekerjaan multitasking, jadi akan lebih mudah juga mengatasi masalah yang dihadapi meski paling rentan mengalami stres. Sementara pria, karena fokus hanya mengerjakan satu pekerjaaan, saat menghadapi banyak masalah, dia akan kelimpungan dan lebih sulit untuk menangani stres yang dialami,” Dr Suryo menerangkan.

Tak jauh berbeda dari mereka yang hidup di zaman purba, kini para pekerja profesional pun rentan mengalami stres. Terutama saat pekerjaan menumpuk dan mendekati deadline. Lantas bagaimana mengatasi stres?

"Untuk meredam stres, yang paling sederhana, Anda perlu punya rutinitas yang jelas dalam kehidupan termasuk dalam pekerjaan. Kalaupun Anda seorang pekerja profesional yang selalu memiliki target, coba buat rencana kerja dengan pola rutin, sehingga tubuh bisa lebih sehat, dan hidup selalu teratur," kata Dr Suryo.

Untuk mengatasi stres, sesekali Anda juga perlu meluangkan waktu untuk sendiri. Kebanyakan wanita dan para pekerja profesional sering menyepelekan hal ini, bahkan mereka juga sering melupakannya.
"Bersantai minimal 30 menit sehari atau melakukan spa, meditasi, yoga, relaksasi dengan melakukan pijat serta berendam di air hangat bisa menjadi obat mujarab meredakan stres Anda," Dr Suryo menyarankan.
Sumber : VIVAnews

Mengapa Orang Sulit Berhenti Merokok

VIVAnews - Sebuah studi baru yang dipublikasikan jurnal Biological Psychiatry menemukan bahwa kebiasaan menghisap rokok dapat mengurangi ketebalan otak manusia.

Peneliti membandingkan ketebalan korteks pada sukarelawan, baik perokok dan yang tidak pernah merokok, yang tidak memiliki penyakit medis atau kejiwaan, dikutip dari Times Of India. Korteks adalah area pada otak yang bertanggung jawab untuk banyak fungsi penting, termasuk bahasa, pengolahan informasi, dan memori.

Hasilnya mencengangkan. Korteks orang yang merokok menipis pada bagian kiri tengah orbitofrontal. Orang yang makin sering merokok, menurut penelitian, penipisan jaringan kortikal akan semakin nampak jelas.

Temuan ini menunjukkan, dengan menipisnya korteks, maka risiko untuk menjadi seorang pecandu narkoba meningkat, bahkan dia akan semakin menjadi perokok berat.

"Karena terjadi penipisan, ini akan terkait dengan kontrol impuls, pengolahan penghargaan dan pengambilan keputusan. Kondisi  ini mungkin menjelaskan bagaimana seseorang dapat menjadi pecandu nikotin," kata Simone Kuhn, salah satu peneliti.

Kuhn menambahkan, "Dalam studi lanjutan, kami berencana untuk mengeksplorasi efek rehabilitatif dari berhenti merokok terhadap otak."

"Temuan saat ini menunjukkan bahwa merokok mungkin memiliki efek kumulatif pada otak," kata John Krystal MD, Editor Biological Psychiatry di Yale University, yang mengungkapkan temuan ini juga menyoroti pentingnya penargetan agar perokok muda menghentikan kebiasaan merokok.
sumber: VIVAnews

4 Tanda Cinta Anda Bertepuk Sebelah Tangan

Sebelum harapan Anda melambung, pastikan dulu perasaan si dia. Jangan-jangan, Anda hanya dianggap teman jalan dan untuk bersenang-senang saja.

Memang agak sulit untuk menebak perasaan pria. Tetapi, sebelum Anda terlalu banyak berharap, ketahui empat tanda jika pria hanya menggangap Anda sebagai teman.

1. Perkenalkan Anda sebagai temanPria cenderung memperkenalkan wanita incarannya dengan menyebutkan langsung nama sang wanita di depan teman-temannya. Tentunya tanpa embel-embel 'teman'. Ini artinya, ia menghindari kata 'teman' karena memang ingin hubungan bisa berlanjut. Tetapi, jika si dia langsung memperkenalkan Anda sebagai teman, ini adalah sinyal kalau ia tak memiliki perasaan yang sama.

2. Menceritakan wanita lain dengan santaiPria tidak akan pernah membicarakan wanita lain dengan santai di depan wanita incarannya. Jika ia dengan cueknya bercerita panjang lebar tentang wanita lain, bisa jadi dia hanya menganggap Anda sebagai teman curhat. Ia mungkin nyaman dengan Anda, tetapi hanya sebatas teman. 

3. Memperlakukan Anda seperti teman priaBerteman dan menghabiskan waktu dengan pria memang seru. Anda mungkin akan sangat menikmatinya. Tetapi saat menghabiskan waktu dengannya, lihat juga sikapnya pada Anda. Jika ia cenderung bersikap seenaknya dan bisa bercanda lepas seperti layaknya teman pria, tandanya ia hanya menganggap Anda sebagai teman.

4. Menelepon jika butuhPria yang sedang melakukan pendekatan akan menelepon untuk menanyakan aktivitas Anda atau mengajak kencan. Bukan hanya saat ia butuh saran atau bantuan. • VIVAnews

Jalan Tol Dibangun di Bali Hanya Untuk Menyambut Tamu APEC

VIVAnews - Menyambut APEC Summit yang akan dilaksanakan di Bali pada 2013 nanti, pemerintah berencana membangun jalan dan jembatan Sarangan-Tanjung Benoa. Pemerintah telah menunjuk empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mendanai dan membangun infrastruktur vital mengatasi kemacetan di Bali tersebut.

"Kesiapan kita bukan hanya untuk Apec Summit, tetapi juga kondisi nyata di Bali. Jalan dan Jembatan Sarangan-Tanjung Benoa sebagai jawaban kemacetan yang ada di daerah Bali, terutama menuju airport," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, 11 Januari 2011.
Menteri BUMN Mustafa Abubakar menuturkan, empat BUMN yang akan terlibat pembangunan jalan tol dan Jembatan Sarangan-Tanjung Benoa sepanjang 11,5 kilometer itu adalah Jasa Marga, Pelindo III, Angkasa Pura I, dan Bali Tourism Development Corporation (BTDC).
"Sehingga tidak diperlukan dana APBN, seluruhnya BUMN dengan memakan dana sekitar Rp1,4-16 triliun," kata Mustafa Abubakar.

Menurut Mustafa, pemerintah menargetkan pembangunan jalan dan jembatan ini dapat selesai pada pertengahan 2013 selaras dengan pembangunan Bandara Ngurah Rai yang memakan biaya Rp1,9 triliun. Pembangunan ini dilaksanakan agar tidak terjadi bottle neck dan para tamu APEC Summit menikmati fasilitas dan akses jalan yang baik.

Penunjukan keempat BUMN ini, kata dia, diusulkan Kementerian BUMN dengan pertimbangan paling murah dan sedikit mengorbankan hutan mangrove serta bisa dimulai secepat mungkin. Saat ini, keempat BUMN telah selesai melaksanakan uji kelayakan (feasibilty studies) dan akan mulai melaksanakan tender yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Di tempat yang sama, Menteri PU Djoko Kirmanto menjelaskan pembangunan jalan dan jembatan Sarangan-Tanjung Benoa tidak akan mengganggu penerbangan dan pelayaran di sekitar Bali.
Kementerian, kata dia, telah memindahkan pembangunan jembatan ke teluk dan ternyata memakan biaya investasi lebih murah. "Kita sudah memindahkan layout, sehingga tidak mengganggu penerbangan dan pelayaran, lebih ke teluk," ujarnya. (hs)
Sumber: VIVAnews

Penggunaan BlackBerry Bukan Buka Situs Porno

Jakarta - Pemerintah diminta untuk berfikir ulang soal rencana penutupan layanan BlackBerry dengan alasan untuk membatasi pornografi. Tidak semua pengguna BlackBerry mengakses situs porno, sebagian besar menggunakan gadget tersebut justru untuk menunjang pekerjaannya.

"Jangan karena sedikit orang itu mengorbankan kepentingan jutaan pengguna yang lain," ujar Sosiolog UI Musni Umar kepada detikcom, Minggu (9/1/2011) malam.

Musni menilai, jika karena alasan pornografi, maka justru pornografi itu yang harus diperangi. Bukan layanan BlackBerry secara keseluruhan.

"Kita sepakat pornografi memang harus dilarang. Tapi menutup layanan secara keseluruhan ini kan persis seperti zaman dulu. Semua dilarang, semua diatur pemerintah," kritiknya.

Menurut dia, kesadaran akan bahaya pornografi itu yang harus dibangun. Melarang sebagian akses, hanya akan membuat pecandu pornografi mencari akses lainnya.

"Harusnya lewat BlackBerry pemerintah justru bisa mengkampanyekan bahaya pornografi. Karena saat ini kan sudah reformasi informasi juga," tutupnya.

Sebelumnya Menkominfo Tifatul Sembiring memberikan tenggat waktu dua minggu kepada Research in Motion (RIM) untuk menutup akses pornografi. Jika tidak, sebelum akhir Januari 2011 seluruh layanan BlackBerry di enam operator akan ditutup.

Menurut Tifatul, masih banyak situs porno yang bisa diakses melalui BlackBerry. Tifatul beralasan, tetap teguh dengan pendiriannya lantaran menegakkan peraturan dan undang-undang yang berlaku, UU No 14/2008 pasal 17 tentang pencegahan penyebaran pornografi.

Operator yang menjadi mitra RIM dalam menyelenggarakan BlackBerry adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Natrindo Telepon Seluler, Hutchison CP Telecom, dan Smart Telecom. Saat ini, pengguna BlackBerry Tanah Air diperkirakan mencapai dua juta pelanggan.

Sumber: DetikNews